2. Employee itu dapat memutuskan apa yang harus dilakukannya pada mesin, sedangkan apa yang dilakukan worker ditentukan mesin.
3. Employee itu pada dasarnya tidak diawasi, hanya perlu “span of responsibility,” sedangkan worker hanya harus diawasi melalui “span of control” sepanjang garis organisasi.
4. Employee itu memiliki means of production, yaitu informasi, sedangkan worker tidak memilikinya.
Aktualisasi Diri
Dewasa ini, dunia wirausaha dan bisnis terus mengalami perubahan yang ditandai oleh beberapa karkteristik. Yaitu, berubah secara dinamis, elmen lingkungan wirausha berinteraksi secara kompleks, membentuk globalisasi dalam kelompok-kelompok dan menghadapi kendala lingkungan hidup (baca: sumber daya alam).
Kenyataan tersebut, tentu harus disikapi dengan kesadaran diri atas kemampuan mengaktulisasikan segala potensi yang telah dikarunikan Allah Swt pada diri manusia. Sejalan dengan ini, H.D. Sudjana (1993) melihat pentingnya pendekatan aktulisasi diri pada diri seseorang.
Pendekatan tersebut, menurut Sudjana didasarkan atas pandangan bahwa orang memiliki potensi atau kemampun di dalam dirinya untuk berkembang. Kemampuan diri itu harus diidentifikasi untuk kemudian diaktualisasikan sehingga kemampuan itu akan berguna bagi kemajuan kehidupannya.
Pendekatan aktualissi diri ini mempunyai empat ciri, yaitu:
Pertama, proses aktualissi diri bertolak dari dan ditimbulkan oleh diri sendiri.
Kedua, belajar melalui pasangan belajar.
Ketiga, membantu munculnya konsep diri yang positif pada diri sendiri warga belajar.
Keempat, mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas.
Dengan melalui keempat pendekatan tersebut, maka akan menghantarkan seorang menjadi wirausahawan pada puncak kemandirian usahanya. Dalam konteks ini, Lilly H. Setiono (2002) mengungkapkan bahwa untuk menjadi seorang wirausahawan mandiri, ada tiga jenis modal utama yang mesti dimilikinya.
(1) Sumber daya internal yang merupakan bagian dari pribadi calon wirausahawan, misalnya kepintaran, ketrampilan, kemampuan menganalisa dan menghitung risiko, keberanin atau visi jauh ke depan.
(2). Sumber daya eksternal, misalnya uang yang cukup untuk membiayai modal usaha (baca: tidak akan memposisikan berapa besarnya uang sebagai modal usaha, tapi lebih pada kreativitas-Pen) dan modal kerja, social network dan jalur demand/supply, dan lainnya.
(3) Faktor x, misalnya kesempatan dan keberuntungan.
Akhirnya, seorang calon wirausahawan mandiri harus menghitung dengan seksama, apakah ketiga sumber daya tersebut ia miliki sebagai modal. Jika faktor-faktor itu dimilikinya, maka ia akan mencapai aktualisasi diri yang menghantarkan pada kemandirian usahanya.
Lebih-lebih hal tersebut, didukung dengan usaha maksimal dalam mengembangkan karunia Illahi yang telah ada dalam pribadi seseorang. Wallahu’alam.***
Arda Dinata, adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.







