Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, syukur dapat menjadi fondasi penting bagi keadilan sosial. Ketika kita menyadari bahwa apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah amanah, bukan hak mutlak, kita akan lebih mudah berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Al-Qur’an secara eksplisit menghubungkan syukur dengan kesediaan berbagi: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'” (QS. Ibrahim: 7).
Psikolog Jonathan Haidt dalam bukunya “The Happiness Hypothesis” (2006) mengemukakan konsep “elevation”—perasaan terangkat dan terinspirasi ketika menyaksikan tindakan kebaikan, kemurahan hati, atau keberanian moral. Haidt menemukan bahwa pengalaman ini tidak hanya membuat kita merasa baik, tetapi juga memotivasi kita untuk melakukan kebaikan serupa. Dengan demikian, syukur yang diwujudkan dalam tindakan nyata dapat menciptakan “spiral positif” dalam masyarakat.
Di era digital dan pandemi yang telah kita lalui beberapa tahun belakangan, konsep syukur menghadapi tantangan sekaligus peluang baru. Di satu sisi, media sosial dapat menciptakan “FOMO” (Fear Of Missing Out) dan budaya perbandingan yang merusak kemampuan kita untuk bersyukur. Di sisi lain, pandemi telah mengajarkan banyak dari kita untuk menghargai hal-hal sederhana yang sebelumnya kita anggap remeh—kesehatan, kebersamaan keluarga, atau sekadar kebebasan untuk berjalan-jalan di luar rumah.
Kembali ke kisah Mbah Karto, mata air kecil di kebunnya mengajarkan bahwa syukur bukanlah tentang kelimpahan, melainkan tentang perspektif. Seorang yang kaya namun selalu merasa kurang pada hakikatnya miskin, sementara seorang yang sederhana namun bisa mensyukuri apa yang ia miliki pada hakikatnya kaya. Syukur adalah mata air yang tidak pernah mengering meski di musim-musim terkering dalam hidup kita.
“Mengucap syukur bukan karena semua telah sempurna, melainkan karena kita memilih melihat kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan. Alhamdulillah bukan ungkapan bahwa hidup telah ideal, tetapi pengakuan bahwa dalam segala kondisi, masih ada kebaikan yang layak disyukuri.”
Inilah barangkali makna syukur sebagai mata air—sumber ketenangan yang tak pernah kering, yang terus mengalir meski dalam kesulitan, yang membuat jiwa tetap hidup dan tumbuh meski dalam keterbatasan. Sebagaimana mata air memberi kehidupan pada lingkungan sekitarnya, syukur yang mengalir dari hati memberi kehidupan pada jiwa dan kebaikan pada lingkungan sosial. Wallahu a’lam bishawab.
Arda Dinata, adalah Blogger, Peneliti dan Pendiri Majelis Inspirasi MIQRA Indonesia.
Daftar Pustaka:
Al-Ghazali, A. H. (2011). Ihya Ulumuddin (Terj. Ibnu Ibrahim Ba’adillah). Jakarta: Republika.
Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens: An experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life. Journal of Personality and Social Psychology, 84(2), 377-389.
Haidt, J. (2006). The happiness hypothesis: Finding modern truth in ancient wisdom. New York: Basic Books.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. (2009). Madarijus Salikin (Terj. Kathur Suhardi). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Nasr, S. H. (1989). Knowledge and the sacred. Albany: State University of New York Press.
Nietzsche, F. (1974). The gay science (W. Kaufmann, Trans.). New York: Vintage Books. (Original work published 1887)
Seligman, M. E. P., Steen, T. A., Park, N., & Peterson, C. (2005). Positive psychology progress: Empirical validation of interventions. American Psychologist, 60(5), 410-421.





