Jadi, waktu itu sesungguhnya hidup itu sendiri. Yusuf Qordlowi mengatakan, Al-waktu huwal hayata, waktu adalah hidup itu sendiri.
Pada tataran demikian, kita menyadari bahwa hakekatnya kehidupan manusia itu benar-benar berada dalam kerugian (baik fisik, material, rohani, spritual, politik, sosial, dan lainnya). Kemudian Allah membuat pengecualian, yaitu ada empat hal yang menyebabkan seseorang terbebas dari kerugian.
Pertama, orang-orang yang beriman. Iman berarti kebenaran yang kita pahami dan kebenaran yang kita yakini. Kebenaran di sini, menyangkut aspek rasional dan emosional. Jadi, iman yang menyeluruh baik pengetahuan (akal) maupun keyakinan (hati).
Kedua, beramal saleh. Yakni melakukan kebenaran yang telah dipahami oleh akal dan diyakini hati melalui ayat-ayat Allah.
Kalau seseorang sudah beriman dan beramal saleh, Ibnul Qoyyim berkata telah sempurna (saleh) orang itu secara pribadi. Tapi, Islam tidak menginginkan kesalehan seseorang itu hanya disimpan untuk diri pribadi. Tapi, sebaiknya didristribusikannya kepada orang lain dan lingkungan.
Artinya, berlakulah kita laksana lemparan sebuah batu di air yang menghasilkan lingkaran-lingkaran, dari yang kecil sampai lingkaran tak terhingga. Proses mendistribusikan kesalehan kita kepada orang lain agar menjadi saleh, itulah yang disebut dengan saling berwasiat dalam kebenaran.
Saling berwasiat dalam kebenaran ini merupakan syarat ketiga yang dapat membebaskan manusia dalam kerugian. Pendeknya, kebenaran yang telah kita yakini dan diamalkan, lalu kita pancarkan pada yang lain.
Di sini, kebenaran telah melalui tiga tahap, yaitu teori, emosional, dan aplikasi. Dan kita tahu, bahwa tingkatan tertinggi dari suatu pengetahuan adalah pengalaman.
Imam Gozali mengatakan ada tiga tingkatan pengetahuan itu, yaitu pemahaman (teoritis), aplikasi, dan sesuatu yang timbul dari aplikasi dan pemahaman. Itulah yang dinamakan pengalaman.
Untuk itu, siapa pun yang berbicara, mendengarkan dan melihat tingkah laku kita, maka hendaknya ia mendapatkan pancaran kebenaran dari kita. Artinya, pribadi seorang Muslim itu, beberapa diameter dalam jaraknya adalah lingkaran kebenaran.
Keempat, saling berwasiat dalam kesabaran. Pernyataan ini sangat berkait dengan kata sebelumnya. Yakni, orang yang beriman. Langkah selanjutnya adalah beramal saleh. Lalu, berwasiat dalam kebenaran dan dialah yang membutuhkan kondisi saling berwasiat dalam kesabaran dibandingkan dengan orang yang hanya beriman (saleh) secara pribadi.
Akhirnya, semoga informasi belajar dari sebuah batu ini bermanfaat dan kita dapat mengambil ibroh-nya dari orang-orang pendahulu kita serta setiap fenomena yang terjadi di alam semesta. Wallahu’alam***
Arda Dinata, adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.







