Inilah kepemimpinan profetik — gaya memimpin yang bersumber dari teladan Rasulullah SAW. Bukan sekadar gaya, tapi ruh. Bukan sekadar metode, tapi misi.
Oleh:Rista Chamelia Anggraini; Neti Herawati; Leo Adi Agung; Orbawan Roswan*
Ketika Seorang Pemimpin Berdiri di Ambang Fajar
Pagi itu, seorang kepala madrasah duduk sendiri di ruang kerjanya sebelum adzan Subuh berkumandang. Di atas mejanya, berkas-berkas laporan keuangan lembaga menumpuk. Di luar, para guru mulai berdatangan — ada yang membawa beban pikiran, ada yang menyimpan keresahan. Di sudut halaman, seorang santri kecil duduk di bangku, menghafal ayat dengan bibir yang bergerak pelan.
Kepala madrasah itu menatap semuanya. Bukan dengan mata seorang manajer. Tapi dengan hati seorang pengampu amanah.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Di sinilah inti persoalan yang sedang dihadapi dunia pendidikan Islam hari ini. Di tengah arus globalisasi, tekanan digitalisasi, dan krisis karakter yang kian nyata, lembaga pendidikan Islam membutuhkan lebih dari sekadar kepala sekolah yang mampu menyusun program kerja. Ia butuh pemimpin yang memimpin dengan jiwa. Yang mengelola dengan nilai. Yang bergerak bukan hanya karena target, tapi karena Allah.
Memimpin Adalah Mewarisi Jejak Nabi
Ada sebuah kisah yang mungkin tidak banyak ditulis di buku manajemen modern. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia terbiasa berjalan malam sendirian memantau keadaan rakyatnya. Suatu malam, ia mendengar tangis seorang ibu dan anak-anaknya yang kelaparan. Umar berlari ke gudang makanan, memikul sendiri karung gandum, dan mengantarkannya ke pintu rumah itu. Seorang sahabatnya menawarkan bantuan, tapi Umar berkata, “Biar aku yang menanggung. Karena di hari kiamat, aku yang akan ditanya tentang mereka.”
Inilah kepemimpinan profetik — gaya memimpin yang bersumber dari teladan Rasulullah SAW. Bukan sekadar gaya, tapi ruh. Bukan sekadar metode, tapi misi.
Dalam pendidikan Islam, kepemimpinan profetik menempatkan pemimpin bukan sebagai penguasa kebijakan, melainkan sebagai pelayan komunitas. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain kepemimpinan profetik, dikenal pula kepemimpinan transformatif — gaya yang menginspirasi anggota lembaga untuk bergerak melampaui batas kemampuan mereka demi visi bersama. Pemimpin transformatif dalam pendidikan Islam tidak sekadar mengejar angka kelulusan. Ia menyalakan semangat, menanam nilai, dan mempersiapkan generasi — bukan hanya untuk dunia, tapi untuk akhirat.
Ada juga kepemimpinan berbasis syura — musyawarah. Allah SWT menegaskan: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran: 159). Keputusan terbaik lahir dari ruang yang jujur, bukan dari meja yang sunyi.
Gaya kepemimpinan bukanlah sekadar pilihan strategi. Ia adalah cermin dari cara seorang pemimpin memahami tanggung jawabnya di hadapan Allah.
Etika: Ketika Kekuasaan Tunduk pada Kebenaran
Tidak sedikit kita menyaksikan lembaga pendidikan yang hancur bukan karena kekurangan dana atau program. Melainkan karena pemimpinnya kehilangan integritas. Keputusan yang tidak adil. Kebijakan yang berpihak. Kepercayaan yang dikhianati pelan-pelan.
Etika kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar kode etik tertulis. Ia adalah komitmen batiniah yang mengakar pada sidq (kejujuran), amanah (kepercayaan), adl (keadilan), dan ihsan (berbuat sebaik-baiknya). Rasulullah SAW bersabda dengan tegas: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Nu’aim)
Kalimat itu singkat. Tapi maknanya membalik seluruh logika kekuasaan. Pemimpin bukan yang paling dilayani. Ia yang paling banyak berkorban.
Dalam praktik pendidikan Islam, etika kepemimpinan hadir dalam setiap detail: adil dalam penilaian kinerja guru, transparan dalam pengelolaan anggaran, konsisten antara ucapan dan tindakan. Pemimpin yang beretika tidak hanya menciptakan sistem yang berjalan, tapi membangun kepercayaan — dan kepercayaan adalah fondasi dari segala kemajuan.
Kajian mutakhir menegaskan bahwa lemahnya etika kepemimpinan menjadi faktor utama kegagalan pengelolaan lembaga pendidikan. Sebaliknya, ketika pemimpin beretika, ia menciptakan stabilitas, mengurangi konflik, dan membangkitkan loyalitas yang tulus dari semua yang dipimpinnya.
Seorang pemimpin yang beretika tidak takut dikritik. Karena ia tahu: kritik adalah cermin, dan cermin tidak berbohong.
Spiritualitas: Ketika Memimpin Menjadi Ibadah
Di sebuah pesantren di pedalaman Jawa, seorang kiai pernah ditanya oleh murid-muridnya: “Kiai, apa rahasia kepemimpinan Kiai sehingga santri tidak pernah pergi dari sini?”
Sang kiai diam sejenak. Lalu ia berkata, “Setiap keputusan yang aku ambil, aku tanya dulu kepada Allah. Setiap kebijakan yang aku buat, aku niatkan sebagai ibadah. Ketika memimpin terasa berat, aku ingat bahwa ini amanah-Nya — bukan milikku.”
Itulah spiritualitas dalam kepemimpinan. Bukan sekadar rajin shalat. Tapi sadar bahwa setiap langkah kepemimpinan adalah bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Allah berfirman: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An’am: 162)
Pemimpin yang spiritual memandang tugasnya bukan sebagai beban jabatan, melainkan ladang amal. Ia tidak mudah korupsi karena ia sadar ada Mata yang selalu mengawasi. Ia tidak mudah sombong karena ia sadar segala kemampuannya adalah titipan. Ia tidak mudah menyerah karena ia tahu ada kekuatan yang jauh lebih besar dari rencana-rencananya.
Dalam lembaga pendidikan Islam, spiritualitas pemimpin menular. Ketika kepala sekolah memuliakan proses belajar sebagai ibadah, guru-guru ikut merasakannya. Ketika pemimpin konsisten berakhlak mulia, suasana lembaga berubah — menjadi lebih hidup, lebih bermakna, lebih Islami. Inilah yang disebut iklim organisasi yang kondusif: bukan hasil rapat evaluasi, tapi buah dari kepemimpinan yang berjiwa.
Ketiga Pilar yang Tak Bisa Berdiri Sendiri
Gaya, etika, dan spiritualitas dalam kepemimpinan pendidikan Islam bukanlah tiga hal yang terpisah. Ia adalah satu kesatuan yang saling menopang. Gaya tanpa etika akan melahirkan kepemimpinan yang manipulatif. Etika tanpa spiritualitas akan menjadi formalitas yang kering. Spiritualitas tanpa gaya yang tepat akan terjebak pada kesalehan pribadi yang tidak menyentuh realitas.
Allah SWT menegaskan: “Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38). Ini bukan sekadar anjuran teknis. Ini adalah model kepemimpinan yang utuh: partisipatif dalam gaya, adil dalam etika, dan ikhlas dalam spiritualitas.
Rasulullah SAW pun bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kepemimpinan yang sejati lahir dari cinta — bukan cinta pada posisi, tapi cinta pada mereka yang dipimpin.
Penelitian terkini menunjukkan bahwa integrasi ketiga aspek ini — gaya transformatif berbasis nilai Islam, etika kepemimpinan yang kuat, dan spiritualitas yang hidup — secara nyata meningkatkan kualitas pendidikan, komitmen guru, dan karakter peserta didik (Elya dkk., 2024; Amalia dkk., 2025). Ini bukan teori di atas kertas. Ini realitas yang sedang menanti diwujudkan di setiap lembaga pendidikan Islam.
Kembali ke Ruang Itu
Ingat kepala madrasah yang duduk sendiri di pagi buta itu?
Ia akhirnya berdiri. Mengambil wudhu. Menunaikan shalat Subuh. Dan ketika matahari terbit, ia berjalan keluar menyambut guru-gurunya satu per satu — bukan sebagai atasan, tapi sebagai saudara. Bukan dengan instruksi, tapi dengan senyum dan sapaan yang hangat.
Itulah kepemimpinan pendidikan Islam. Bukan yang paling keras suaranya di rapat. Bukan yang paling banyak programnya di kalender. Tapi yang paling dalam cintanya kepada Allah dan kepada mereka yang dipercayakan padanya.
Muhasabah untuk kita semua: Sudahkah kepemimpinan kita hari ini — di ruang kelas, di meja rapat, di halaman sekolah — menjadi bagian dari ibadah kita kepada-Nya?
* Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Program Studi Managemen Pendidikan Islam di Institut Agama Islam Bogor.
Daftar Pustaka
Amalia Batubara, A. A. H., & Nasution, M. R. (2025). Etika kepemimpinan dalam pendidikan Islam: Teladan Nabi. EDU SOCIETY: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Amalia dkk. (2020). Kepemimpinan spiritual dalam lembaga pendidikan. IQ (Ilmu Al-Qur’an): Jurnal Pendidikan Islam.
Amalia dkk. (2025). Fostering character and a conducive learning environment through spiritual leadership. Jurnal Pendidikan Islam.
Amalia dkk. (2025). Islamic spiritual e-leadership integration model for education quality improvement. Didaktika Religia.
Elya, Z., Sulistyawati, Y., Asmendri, A., & Milyasari, M. (2024). Kepemimpinan transformatif dalam perspektif pendidikan Islam. Khazanah Pendidikan: Jurnal Nasional UMP.
Risalatul Lailiya & Nur Fitriatin. (2025). Etika kepemimpinan dalam administrasi pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia: Jurnal Bima Berilmu.
Supriatna, D. (2024). Transformational leadership based approach to Islamic education management. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. Syarifudin & Yudhyarta, D. (2019). Pengembangan spiritual leadership dan pengaruhnya terhadap lembaga pendidikan Islam. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam.